Dec
5
GeoTrax Timbertown Railway - Starter Railway for Your Children
December 5, 2010 | Tagged fisher price geotrax timbertown railway, geotrax timbertown, geotrax timbertown railway, timbertown railway | 3 Comments
The geotrax timbertown railway Train Set offers all the actual classic railroad play small boys love. fisher price geotrax timbertown railway is completely remote-controlled. The particular three-car train features auto-aligning locomotive’s wheels that ensure the train stays on the monitors.
The controller features send and reverse controls and train sound effects. Drive the train around the curve, up the hill and also to the mountain. Pick up logs to help keep the “wood-burning” engine likely. Use the crane in addition to the mountain to load all of it up.
The timbertown railway is painted in vibrant colors and includes a cute, cartoonish look that will kids will undoubtedly delight in. When the train’s added wheels move, its smokestack moves up and down. The train also comes with a conductor action figure.
The geotrax timbertown has been designed with smaller children at heart, and older kids will certainly quickly get bored when using the railway’s compact size as well as limited activities. However, it really is an ideal starter train set for younger infants, and will provide hours of imaginative play. The set can also be compatible with the rest of the GeoTrax set.
Kids can pilot the train by using an intuitive good remote control, or can opt to move it around by fretting hand. As the train traverses the track, it will make its way upwards a mountain, circle around loops and drive by having a tunnel. There’s also a working crane, where kids can load lumber and various cargo onto the cars.
The train can make its technique down the winding hill and returning to the Easy-Rail Station to fall off cargo and complete this trip. Set up that 15 pieces of sturdy, Snap-Lock track in a lot of ways for new travels.
The timbertown railway features interlocking track parts that snap together effortlessly. Although it has already been built for easy assembling your equipment, the track will probably require some adult aid during setup. With the exact help of the included directions, setup should take around 15 minutes.
May
3
Kota yang Sehat
May 3, 2010 | Tagged Bersepeda, Jalan Setapak, Kota Sehat, Pedestrian, Pejalan Kaki, Trotoar | Leave a Comment
Saat dalam tahap perencanaan untuk membuat jalan tidak-kah sebaiknya kawasan pedestrian yang menjadi pertimbangan utama? Berapa lebarnya? Bagaimana pepohonan akan ditempatkan? Bagaimana kendaraan umum dapat berhenti untuk mengambil penumpang? Bagaimana pengendara sepeda dan pejalan kaki dapat berbagi kawasan pedestrian ini?
Saya menulis ini karena saya melihat ada begitu banyak sepeda motor di jalan. Saya dapat mengerti karena sepeda motor adalah alternatif yang murah dan lumayan nyaman untuk berpergian jika dibandingkan dengan menggunakan bus atau kereta api yang berdesakan, apalagi jika harus dilanjutkan dengan berjalan kaki.
Kawasan pedestrian belum cukup memadai sehingga penggunanya selalu was-was takut tertabrak kendaraan dari belakang.
Jadikanlah semua kota di Indonesia menjadi kota sehat, dimana penduduknya banyak yang berjalan kaki, dan bersepeda. Syaratnya cuma dua, yaitu kawasan pedestrian yang nyaman dan angkutan umum yang memadai.
Pedestrian yang nyaman itu seperti apa? Buat saya itu berarti pepohonan rindang di sepanjang pedestrian, jalan setapak bersih, udara bersih, bebas hambatan “PKL”, dan ada fasilitas angkutan umum dengan petunjuk rute yang detail.
Dengan ini saya berharap kendaraan di jalan banyak berkurang dan lebih banyak yang berjalan kaki atau bersepeda.
Feb
24
Bajaj BBG emang Ok
February 24, 2010 | Tagged Bahan Bakar Gas, Bajaj BBG, Ramah Lingkungan | 3 Comments
Hari ini dari siang sampai sore saya naik sepeda motor. Karena sudah hampir 2 tahun tidak ke Jakarta, ternyata sudah banyak sekali bajaj BBG yang beroperasi, akibatnya saya ingin berterima kasih sekali kepada sopir-sopir bajaj yang memilih kendaraan BBG, karena pengalaman berkendara sepeda motor tadi jauh lebih baik dari 2 tahun yang lalu. Kecuali macetnya yang masih sama. haha
Kalau 2 tahun yang lalu kena macet pas di belakang bajaj rasanya uda kaya pepes ikan, polusinya parah bener.
Ayo para sopir-sopir bajaj yang masih pake bajaj standart beralih ke bajaj BBG, supaya udara lebih bersih dan baik untuk semua.
Metro mini juga dipakein gas deh bahan bakarnya
Feb
24
G20 vs George Soros
February 24, 2010 | Tagged Akbar Faisal, Bail Out, G20, Geore Soros, Pansus Century, Ruhut Sitompul | 1 Comment
Sebenernya ini unek-unek dari satu atau dua hari yang lalu pada saat ada debat yang cukup seru di salah satu media televisi swasta mengenai bail out, dimana Bang Ruhut mengatakan bahwa: menurut G20 Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara yang selamat dari amukan krisis ekonomi global. Ketiga negara itu adalah: Indonesia, China, dan India. Namun setelah itu Bang Akbar menimpali: jika anda merujuk pada G20 saya juga punya, George Soros mengatakan kebijakan itu tidak perlu dilakukan. Disini yang makin seru, Bang Ruhut mulai mengeluarkan kata-kata keras dengan mengatakan bahwa kita tidak perlu mendengar George Soros karena dia itu orang Yahudi.
Sebenarnya menurut saya lebih baik dikatakan: bahwa G20 itu jelas mewakili kepentingan negara, sedangan George Soros adalah orang yang bermain di pasar uang dan berusaha mendapatkan keuntungan dari sana. Jadi jika Soros berkata sebaiknya kebijakan itu tidak perlu, kita patut mencurigai jangan-jangan ada kepentingan bisnis disana, agar bisa mendapat keuntungan dari mata uang Rupiah.
Ini cuman pendapat saya yang kurang setuju dengan sebutan2 rasial, sekaligus juga kurang setuju dengan pendapat George Soros yang belum tentu benar.
Namanya juga pendapat. Maap kalau ada salah-salah kata
Feb
17
Pesan untuk Media
February 17, 2010 | Tagged demonstrasi damai, media | Leave a Comment
Demonstrasi banyak sekali terjadi di Indonesia. Ada yang berlangsung dengan damai dan ada pula yang anarkis. Saya pikir kita semua sepakat bahwa demonstrasi yang kita inginkan adalah demonstrasi yang damai.
Oleh karena itu media sebagai jendela informasi yang tak terbendung harus bisa memberikan pendidikan dan arahan yang baik. Saya tidak setuju jika media itu netral (memberitakan sesuatu dengan apa adanya), tidak perduli baik buruk, benar atau salah, semua harus tayang.
Pertimbangkan alasan ini. Media saat ini bisa menjadi, atau sudah menjadi faktor pembentuk budaya bangsa. Saya ambil contoh: pada saat demonstrasi yang berlangsung anarkis mendapatkan perhatian luas dari media, maka secara tidak langsung media mendidik bahwa jika demonstrasinya ingin mendapat perhatian luas dari media harus anarki dulu. Hmmm…. ini kan tidak benar.
Maka itu saya usul (kalau boleh).
Media harus berpihak kepada yang benar dan cara-cara yang benar. Jika ada demonstrasi yang berlangsung dengan anarkis sebaiknya hanya pesan-nya saja yang diambil, sedangkan aksinya diliput seminimal mungkin. Sebaliknya jika ada demonstrasi yang tertib dan damai, berikan mereka liputan yang seluas-luasnya agar dapat menjadi motivasi bagi demonstran lain jika ingin mendapatkan liputan yang seluas-luasnya dari media.
Liputan luas dari media = pesan-nya sampai + mendapat dukungan dari masyarakat luas.
Harapannya, agar di kemudian hari lebih banyak demonstrasi-demonstrasi yang berlangsung dengan damai dan tertib.
Jan
31
Republik Uang
January 31, 2010 | Tagged Integritas, Kejujuran, Perjuangan, Politik, Uang | 46 Comments
Lihatlah pada cuplikan peristiwa sejarah ini. Bagaimana Bung Tomo dapat memanggil dan menggerakan seluruh lapisan masyarakat untuk berjuang hingga tetes darah terakhir demi satu cita-cita mulia, mengusir penjajah dari bumi Indonesia.
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih! merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga.
Inilah jiwa bangsa Indonesia yang sebenarnya. Bangsa Indonesia punya Integritas.
Lihatlah bagaimana waktu Belanda mengibarkan bendera Merah-Putih-Biru di atas Hotel Yamato. Rakyat Indonesia marah! Dengan spontan berbondong-bondong mendatangi Hotel Yamato, kemudian merobek bagian biru dari bendera Belanda hingga menjadi Merah dan Putih.
Yang saya mau katakan disini, Apakah ada dari aksi pengerahan masa tersebut mengeluarkan uang?? Mereka bukan hanya sekedar berkumpul saja untuk mendengarkan pidato, bahkan Bung Tomo meminta rakyat untuk berjuang melawan penjajah dengan resiko “MATI!!” Adakah melibatkan uang disana?
Itulah sejarah….
Namun disaat-saat tenang diluar masa-masa perjuangan, ketergantungan terhadap uang mulai menjajah secara perlahan-lahan hingga pada hari ini uang sangat kuat sekali dominasinya.
Saya ambil contoh. Di media-media sudah pernah disiarkan wawancara dengan beberapa demonstran yang ikut ber-demo karena dibayar uang sebesar 30 ribu rupiah. Jadi kalau kita bertanya “Apa yang kamu perjuangkan dengan demo ini??” Secara logika jawabannya adalah “Uang 30 ribu rupiah”… Betapa uang telah membutakan kita semua.
Mari kita lihat ekstreem-nya. Jika pada pilkada seseorang terpilih karena dia memiliki uang yang banyak hingga bisa membentuk jaringan dan memerintahkan jaringan itu untuk membagi-bagikan uang, dengan syarat harus memilih “dia”. Tidakah negara ini telah menjadi Republik Uang?
Lanjut….
Dan jika suatu saat datang orang yang punya lebih banyak uang, dia pun melakukan hal yang sama, yaitu membagikan uang ke sejumlah besar orang agar mau berdemo untuk menjatuhkan pimpinan yang ada sekarang.
Nah lo!! Bagaimana ini urusannya?
Saya sendiri juga bingung, mana yang benar dan mana yang salah. Karena yang disajikan hanya opini-opini saja.
Hingga seorang Ibu Sri Mulyani yang saya anggap memiliki Integritas sekarang terlihat seperti seseorang yang bersalah karena kasus bank Century.
Dimanakah kebenarannya?
Uang bisa menjadikan seseorang berkuasa. Uang juga bisa menjadikan seseorang binasa.
Ada kutipan bagus nih.
Setialah kepada dirimu sendiri: kalau dalam hatimu tidak menyimpang dari kebenaran, tanpa berdoa pun, dewa-dewa akan menjaga keselamatanmu
Entah “seperti judul lagu Iwan Fals” apakah gua akan menjual jiwa gua kalau ditawari uang 30 ribu.
Jan
30
Sepak Bola dari Sudut Pandang Orang Gila
January 30, 2010 | Tagged Orang Gila, PSSI, Sepak Bola | Leave a Comment
Orang gila ini akan melompat kegirangan kalau ada wasit yang lari dikejar pemain. Dia pikir itu teman-nya lagi dikejar petugas RSJ. Orang gila teriak-teriak “Lari yang kenceng mang, jangan sampai ketangkep tar nasib loe sama kaya gue loh, nontonin orang gila.” Teringat pengalaman, dulu dia pernah dikejar petugas, samapai nyebur ke got.
Orang gila berpendapat mengenai wasit. “Temen gua ternyata lebih gila dari gua. Berdiri di tengah siap ditonjikin, ditendang, dilemparin batu, ditoyol-toyol jidatnya. Hahaha, gua nonton aja de sambil berdoa semoga temen gua itu cepet sadar, kalau jadi orang gila jangan terlalu extreme.”
Pendapat orang gila mengenai supporter anarki yang suka lempar-lempar batu dan bakar-bakar. “Ah, waktu gua gila dulu ga gitu-gitu amat, terlalu over nih orang gila jaman sekarang.”
Kata orang gila kalau ada rusuh di tengah lapangan. “Loh, tadi gua lagi nonton apa ya?? Kok, tiba-tiba jadi acara sirkus!! HOOOOYYY… Siapa yang ganti saluran-nya? Gua tonjok lu!”
Pendapat orang gila kalau tim Indonesia kalah. “Kebiasaan jelek ko dipelihara!!”
Feb
6
Mengunyah Permen Karet
February 6, 2009 | Tagged Kebosanan, Permen Karet, Rutinitas, Specialisasi | 1 Comment
Sebagai seorang yang suka makan permen karet, lidah saya sudah sering sekali tidak sengaja tergigit. Dan tergigit itu rasanya memang sakit, terus esok hari-nya pasti muncul sariawan putih dan besar.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda dengan gigitan hari ini. Gigitan ini tiba-tiba membuat saya berpikir: Kenapa bisa sampai tergigit? Padahal mengunyah permen karet adalah sesuatu yang rutin saya lakukan dan gerakannya pun selalu sama “mengunyah” berulang-ulang.
Nah… kemudian di sini saya menemukan bahwa “kecepatan” yang berbeda-bedalah yang membuat lidah saya tergigit.
Setelah saya berkesimpulan bahwa kecepatan-lah penyebabnya; ternyata pikiran tentang “permen karet” ini jadi membawa saya ke tempat yang lain. Saya berpikir tentang rutinitas, atau lebih tepatnya spesialisasi. Membayangkan seseorang pekerja pabrik yang sudah terspesialisasi dalam melakukan pekerjaan-nya akan bisa “tergigit” juga jika dilakukan dengan kecepatan yang lebih cepat dari kebiasan.
Tapi, kemudian ini menjadi polemik dalam pikiran saya. Jika melakukan pekerjaan rutin dengan kecepatan yang sama terus maka lama-kelamaan akan mengakibatkan kejenuhan dan kehilangan konsentrasi dalam bekerja. Jika sudah seperti itu, dengan kecepatan normal-pun akhirnya “tergigit” juga.
Bahkan sambil menulis ini saya masih mengunyah permen karet yang sama yang membuat lidah saya tergigit… Atau saya sendiri yang membuat lidah saya tergigit.
Feb
6
Duluan Mana: Cinta atau Penerimaan
February 6, 2009 | Tagged Adaptasi, Cinta, Penerimaan, Penyesuaian, Perjuangan Cinta | 1 Comment
Mengutip dari Blog-nya Mbak Febby, “cinta itu terkadang tidak sopan, dia bisa jatuh kepada orang yang mungkin orang lain pikir kurang cocok, atau dia bisa juga jatuh kepada orang yang tidak membalasnya”.
Karena tulisan itu saya jadi bertanya-tanya, “Cinta tak berbalas, Kenapa? Apa benar cinta yang menghasilkan cinta atau penerimaan-kah yang akan menghasilkan cinta??”
Konsep penerimaan lebih dulu rasanya lebih sopan, karena sudah terlalu banyak cinta-cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Padahal kalau saya pikir-pikir: jika cinta ditolak pada saat pertama tanpa melalui proses terlebih dahulu, maka ada kemungkinan yang tertolak adalah cinta yang sebenarnya “cinta yang membawa suka cita sampai akhir”. Jadi menurut saya, mengapa tidak mencoba saja untuk menerima cinta itu, kemudian jalani prosesnya. Urusan apakah cinta itu akan membawa suka cita atau tidak? Jawabannya akan ditemukan pada proses itu.
Bagaimana pendapat kalian?
*tulisan dari seseorang yang belum paham tentang cinta. mohon pencerahan
Feb
4
Kejujuran dan Ketulusan Hati
February 4, 2009 | Tagged Budaya Jepang, Bushido, Etika, Integritas, Kejujuran Samurai, Norma | 14 Comments
Saya sedang membaca buku dengan judul Bushido. Buku yang mengulas tentang nilai-nilai tradisional masyarkat Jepang berdasarkan kode etik Samurai pada jaman feodal dulu kala. Nilai-nilai yang dibahas antara lain tangung jawab, kehormatan, sopan santun, kebajikan, keadilan, kejujuran, ketulusan hati dan banyak nilai-nilai lainnya yang belum saya sebutkan karena saya sendiri belum selesai membaca.
Pada suatu bagian dari buku tersebut saya menemukan penggambaran tentang bertapa terhormat-nya seorang Samurai pada jaman itu, hingga ucapan yang keluar dari seorang Samurai itu adalah jaminan atas kebenaran dan sangat dapat dipercaya. Tidak perlu membuat surat kontrak hitam diatas putih yang bermaterai dan ditandatangani para pihak, seorang Samurai mempertanggungjawabkan ucapannya dengan nyawanya sendiri jika di kemudian hari ternyata dia berlidah ganda. Pada waktu itu ucapan seorang Samurai adalah jujur dan tulus. Integritas dari seorang Samurai sudah tidak diragukan lagi. Maka itu seorang Samurai marasa sangat terhina jika ada orang yang meminta dia untuk bersumpah. Tidak ada kehormatan dengan bersumpah.
Ironisnya saat sekarang, kemanakah perginya nilai-nilai ini di Indonesia, apakah nilai-nilai moral ini berbeda antara Indonesia dengan Jepang?? Banyak orang-orang meng-obral sumpah dan janji-janji agar bisa lolos dari masalah atau mendapatkan popularitas. Misalnya seorang maling ayam yang telah dicurigai, ketika ditanya dia akan berkata “Sumpah bukan saya yang mencuri” maka loloslah dia dari hukuman warga. Lagi, seorang politisi yang menjanjikan A-Z demi popularitas hingga mendapatkan suara terbanyak dan menang. Tetapi setelah terpilih enggan melepaskan jabatan ketika janji-janji semasa kampanye tidak dapat terpenuhi, dan bersikap seperti tidak merasa bersalah sama sekali. Bahkan yang jelas-jelas ketahuan korupsi pun enggan melepas jabatannya, ada pula yang memimpin organisasinya dari balik jeruji penjara. Bagaimana republik ini?? Kenapa tidak mengundurkan diri saja demi kehormatan, dari pada dipecat dengan tidak hormat. Pengunduran diri merupakan bentuk pengakuan dan tanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat. Mengakui kesalahan dan berani bertanggung jawab bukanlah hal yang mudah, ia membutuhkan jiwa besar dan integritas, akan tetapi masyarakat memberikan penghargaan dan kehormatan yang tinggi atas hal tersebut.
Lagi saya meminjam kata-kata dari buku
“Setialah kepada dirimu sendiri: kalau dalam hatimu tidak menyimpang dari kebenaran, tanpa berdoa pun, dewa-dewa akan menjaga keselamatanmu”.